Sabtu, 03 Desember 2016

PERJUANGAN MENGUAK TAKDIR





















Jalan kita sejauh mata memandang sudah datar
Tak ada bukit atau gunung yang menghadang
Hasrat kita bercorak sama, namun beda rasa
Desaku kental mencetak karakter ndesoku
dengan cara berpikir rasional bernafas ketuhanan
Sedangkan kotamu juga mengexploitir borjuismu
dengan cara berpikir full rasional

Biduk kita sudah hampir mendarat di pulau
tapi kita belum jua sepakat kan membuang sauh
Padahal badai tiap saat bisa mencampak biduk kita
Akan sampaikah kita ke pulau?

Bagiku fatwa kiyai adalah obor
Sebagai pelita saat-saat aku gelap
Juga sebagai kendali saat-saat terlelap
Namun......bagimu dikira mengurangi rasa

Bila di Lauhmahfudz tertulis tak lama kita bersama
Hanya doa yang bisa merubah takdir
"Takkan berubah nasib suatu kaum, 
kecuali kaum itu merubahnya sendiri"
Jadikan fatwa kiyai itu sebagai cambuk,
agar kita rajin menadahkan tangan berdoa
Begitu eratnya tangan kita saling menggenggam
Aku tak mau berpaling lagi
Dan kita selamat mendarat di pulau







Tidak ada komentar:

Posting Komentar