MENGAPA KAU MENINGGALKANKU, NAK ?
Sabtu, 03 Desember 2016
PERJUANGAN MENGUAK TAKDIR
Jalan kita sejauh mata memandang sudah datar
Tak ada bukit atau gunung yang menghadang
Hasrat kita bercorak sama, namun beda rasa
Desaku kental mencetak karakter ndesoku
dengan cara berpikir rasional bernafas ketuhanan
Sedangkan kotamu juga mengexploitir borjuismu
dengan cara berpikir full rasional
Biduk kita sudah hampir mendarat di pulau
tapi kita belum jua sepakat kan membuang sauh
Padahal badai tiap saat bisa mencampak biduk kita
Akan sampaikah kita ke pulau?
Bagiku fatwa kiyai adalah obor
Sebagai pelita saat-saat aku gelap
Juga sebagai kendali saat-saat terlelap
Namun......bagimu dikira mengurangi rasa
Bila di Lauhmahfudz tertulis tak lama kita bersama
Hanya doa yang bisa merubah takdir
"Takkan berubah nasib suatu kaum,
kecuali kaum itu merubahnya sendiri"
Jadikan fatwa kiyai itu sebagai cambuk,
agar kita rajin menadahkan tangan berdoa
Begitu eratnya tangan kita saling menggenggam
Aku tak mau berpaling lagi
Dan kita selamat mendarat di pulau
Selasa, 08 November 2016
MENGAPA KAU MENINGGALKANKU, NAK ?
Keluarga Yanto terbilang cukup sejahtera dengan pola hidup sederhana, walau dia bekerja sebagai abdi negara (PNS) berkat ketelatenan dan kesabaran serta dukungan istrinya, Asih yang tak banyak neko-neko. Mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya 3 (tiga) orang sampai selesai kuliah diperguruan tinggi'
Sebetulnya Yanto bukan keturunan keluarga berada, ayahnya seorang buruh pabrik yang hidupnya serba pas-pasan, bahkan cenderung gaji yang diperoleh tak cukup untuk biaya sebulan. Bahkan masih terbayang di benak Yanto betapa susahnya hidup di masa kecilnya, masih terlukis dalam luka hatinya saat ibundanya terkena penyakit tubercoluse (TBC) yang sangat populer di jamannya. Naluri seorang ibu yang melawan kodrat masalah ekonomi, agar anak-anaknya bisa kuliah ke Perguruan Tinggi. Padahal pabrik tempat suaminya bekerja sedang kembang-kempis. Gaji sesekali tak dibayar karena krisis keuangan. Sebenarnya bukan porsi Yanto untuk bisa kuliah.
Bagi Yanto hal ini merupakan kenangan masa kecil yang mengiris tajam dalam sanubari. Dia berangan-angan agar jangan sampai sejarah kelam ini terulang pada anak-anaknya. Dia bercita-cita agar anak-anaknya bisa menjadi orang yang berguna bagibangsa, negara dan agama. Penghasilan sebagai abdi negara tak banyak menjanjikan. Namun Allah SWT tak berhutang harapan atas doa hamba Nya. Satu per satu anak Yanto bisa selesai kuliah dan bekerja. Tinggallah si bungsu yang kini baru masuk Perguruan Tinggi. Benar apa yang dikatakan peribahasa WHERE THERE IS A WILL THERE IS A WAY, dimana ada kemauan disitu ada jalan.
Tapi suasana nyaman tak selamanya. Tuhan menyelipkan duka diantara tawa, pun sebaliknya Tuhan menyelipkan tawa diantara duka. Hanya saja manusia pada umumnya lupa dan terlena. Tatkala kita dianugerahi nikmat kebahagiaan.....lupa bersyukur, sehingga Tuhan harus memberi cubitan kecil dengan menyelipkan duka. AFALAA TAKKILUN, Apa engkau (manusia) tak berpikir?
WULAN, anak pertama Yanto, mengalami kecelakaan lalulintas, tabrakan sesama sepeda motor dan tewas. Bagai disambar petir di siang hari bolong ketika Yanto mendengar putri pertamanya tewas. Dia sendiri sedang berada diluar kota mendampingi istrinya dirawat di Rumah Sakit. "Yaa......Robb, kuatkan hati hamba yang rapuh ini dalam menerima cobaan Mu, kepada Mu kami berlindung dan kepada Mu pula kami minta tolong. Karuniakanlah kami kekuatan fisik & ketegaran jiwa".
Yanto dan isterinya meminta ijin dokter yang merawat untuk menghadiri penguburan Wulan. Tak terbayangkan betapa susahnya menempuh perjalanan yg mestinya hanya 5 jam perjalanan mobil, kini harus ditempuh sekitar 8 jam dengan penuh perjuangan di jalan karena mobil tak bisa berlari kencang mengangkut pasien akut. Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu sanak keluarga, teman-teman yang nyelawat. Mereka langsung menemui jasad anaknya yang sudah terbungkus kain kafan, hanya mukanya saja yang terbuka. Mereka meberikan ciuman terahir dan Asih mengalami depresi berat.
"Selamat jalan anakku, semoga semua amal baikmu dapat diterima oleh Allah SWT dan dosa2mu dapat diampuni oleh Nya", Yanto menitikkan airmata sambil menekan kepedihan hati yang sangat dalam. "Tak ada sesuatu yang terjadi tanpa ridho Mu , yaa....Allah", katanya nyaris tak terdengar.
Kepergian Wulan merupakan pukulan telak pada ibunya. Badan yang sudah kena penyakit kanker paru, kini mengalami pukulan batin yang hebat pula. Secara drastis kondisi fisik Asih kian hari makin menurun. Sebulan dari wafatnya Wulan, kondisi Asih sudah di titik nadir, tabung Oxygen sambung menyambung dipasang agar tak kesulitan bernafas. Yanto dan sanak kerabat membacakan ayat-ayat Quran mengantarkan sang isteri saat-saat nazak (saat terahir nyawa mau dicabut malaikat).
"Ampunilah dosa-dosa isteri hamba, yaa....Allah, berikanlah kemudahan perjalanan nyawa ini yang tidak sakit, apapun yang memnjadi kehendak Mu hamba rela", doa Yanto sambil berderai airmata. Para kerabat pada sibuk membimbing perjalanan Asih menghadap Sang Khalik. Ahirnya "Asyhadu allaa-ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadur Rasuulullah", komat-kamit Asih nyaris tak terdengar dan senyum yang menghias menghilang. "Yaa.....Allaaaaaah", semua menjerit. Asih menyusul Wulan menghadap Yang Maha Pencipta.
Kering sudah air mata Yanto ini, ingin rasanya menjerit sekeras-kerasnya tapi siapa yang peduli? Paling-paling mereka hanya bilang "kasihan", bahkan mungkin banyak yang mencibir. Yanto hanya bisa menyembunyikan duka sangat mendalam. "Takkan terjadi sesuatu tanpa kehendak Mu yaa.....Allah, berikanlah kami kekuatan dan ketabahan".
Yanto tertunduk lesu. "Aku harus bangkit dari sedu-sedan ini. Anakku masih perlu bimbingan, perlu kasih sayang. Sekarang ibunya dah wafat, jangan sampai ayahnya tiada pula. Anak-anakku harus jadi manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang mandiri lahir dan batin", katanya dalam hati sambil berusaha menguak kepedihan dan MOVE ON.
Waktu selangkah demi selangkah merangkak. Tersindir kitasebagai pemeluk agama yang teguh, bila membaca Surat Al Asr (Q.S.103 : 1-3) "Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, serta saling menasehati supaya menjalankan kebenaran, dan saling menasehati supaya tabah menghadapi kesukaran".
Betapa ruginya orang-orang yang menyia-nyiakan waktu. "Demi waktu", inilah sumpah Allah yang banyak diabaikan oleh manusia. Begitu pentingnya arti "waktu" sampai-sampai Sang Khalik memnjadikannya sebagai sumpah.
NIA, putri kedua Yanto, telah selesai kuliahnya dan bekerja di salah satu perusahaan swasta dengan gaji yang lumayan. Dia sudah berumahtangga, sehingga Yanto mengalihkan perhatiannya pada si bungsu.
PRAS, begitu panggilan anak bungsu Yanto. Dia baru masuk perguruan tinggi di Jawa Timur. Pembawaannya pendiam, agak tertutup dan terkesan acuh beybeh.
Sejak kepergian Pras ini dari kampung halaman untuk melanjutkan kuliah, rumah Yanto begitu sunyi senyap karena hanya Yanto sendirian yang tinggal disitu. Sesekali hanya suara TV terdengar memecah kesunyian malam.
Seringkali Yanto diterpa kerinduan pada anak-anaknya. Untung kemajuan teknologi mengatasi faktor jarak, dia menelpon anak-anaknya. Barangkali dengan mendengar suara mereka, rindu yang lama bersemayam bisa terobati. "Kring.....kring.....", telpon berdering tapi tak ada yang ngangkat. Dengan wajah kecewa berat Yanto menaruh HPnya di meja. Biasanya telpon tak diangkat akan muncul tulisan "ada panggilan tak terjawab". Yanto berharap anak-anaknya melihat tulisan ini dan akan segera membalas menelpon. Ternyata ditunggu-tunggu tak ada satu pun dari anaknya yang menelpon balik.
Seringkali bila ada kesempatan berkumpul bersama Yanto menasehati "Kalau ada telpon masuk mbok ya diangkat, atau kalau ada telpon tak terjawab mbok yo nelpon balik, nduuuuk". Ada saja jawab mereka katanya "masih sibuk" atau "tak ada pulsa" dan lain-lain. Mereka seperti enggan menerima telpon ayahnya yang cerewet menasehati. Cerewetnya orangtua itu "jamu" untuk kebaikan. Pahit itu jangan langsung dilepeh siapa tahu itu jamu, dan manis itu jangan langsung ditelan siapa tahu itu racun. Yanto sambil mengelus dada berkata "Anakku, aku ini rewel untuk kebaikanmu supaya kamu menjadi orang. Ayah minta maaf....bila ada kesalahan-kesalahan dalam mendidikmu di masa lalu, saat kau masih kecil sehingga menjadi deritamu, nak. Jangan tinggalkan ayah dalam kerinduan. Pada saatnya kau akan mengerti betapa besarnya arti kerinduan orantua pada anak. Aku tak mengharap apa-apa darimu, harapanku hanya DOAKAN AKU SAAT AKU TIADA. Karena hanya doamu yang bisa nyampai ke alam barzah sana".
Hari demi hari Yanto dilalui menghuni sendiri rumah kenangan. Rumah yang dahulunya cerah ceriah penuh tawa, sekarang berganti senyap seperti kuburan. Bila melihat benda-benda tinggalan isteri atau anaknya terasa dadanya mau meledak, tak kuat menahan gejolak hati. Ahirnya Yanto pun menyadari bahwa tak boleh larut dalam kesedihan terus. "Yaa....Robb, apakah tragedi ini merupakan ujian atau cobaan pada hamba? Berilah hamba kekuatan dan ketabahan dalam menghadapinya. Sesungguhnya tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan Mu".
Teman-teman Yanto banyak bersimpati atas musibah yang terjadi padanya. Mungkin maksud mereka baik agar Yanto tidakterus larut dalam kesedihan. Beberapa diantara mereka menawarkan jasa baik untuk beristeri lagi dengan mengusulkan beberapa nama kandidat. Namun Yanto secara santun berkata "Aku sangat berterimakasih kepadamu semua yang banyak perhatian pada nasibku, bukan aku tak mau beristeri lagi, tapi sekarang masih belum saatnya. Tuuh.....lihat, tanah kuburan isteriku masih basah gimana aku harus beristeri lagi? Namun tanpa mengurangi arti, aku mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada kalian". Yaah.....isteri wafat belum genap dapat 40 hari, sudah ditawari untuk menikah lagi. Apa kata dunia ???
Pada kenduren 40 hari wafatnya Asih (bu Yanto), menurut tradisi Jawa ada slametan 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun dan terahir 1000 hari. Hal ini sebetulnya tak berdasar dalam agama, hanya menyelaraskan dengan tradisi masyarakat setempat. Yanto sibuk menerima tamu yang datang. Acara demi acara berlangsungsung secara tertib hingga selesai.
Sayup-sayup terdengar suara isak tangis dari kamar. Yanto mendekat mendatangi suara itu, ternyata Nia menangis sampai bengkak matanya."Kenapa kamu menangis, ada apa Nia?", kata Yanto sambil mengelus-elus rambut anaknya. "Aku mau berhenti kerja, ayah", kata Nia. "Haah.....emang ada apa kok mau berhenti kerja?", Yanto nanya. "Ayah kan sendirian, biar aku mau merawat ayah", katanya pula.
"Nia, cari kerja itu tak gampang......sedangkan kamu dah dapat kerjaan itupun mau dilepas pula. Ayah masih bisa merawat diri. Apa dengan kamu berhenti kerja lantas permasalahan ini bisa selesai? Kamu kan punya rumah tangga sendiri, mau dikemanakan suamimu itu? Bahkan masalah di rumah ini bisa merembet pada rumah tanggamu", Yanto membujuk anaknya dengan trenyuh. Anaknya menjawab "Aku sudah bilang mas Anton, dia sudah mau kok aku tinggal disini". Yanto menitikkan airmata "Nia......aku tak mau kejadian dirumah ini merembet ke rumah tanggamu, biarlah masalah dirumah ini ayah yang menyelesaikan dan kamu kamu tak usah berhenti kerja".
Cobaan hidup pasti datang susul menyusul ibarat ombak di lautan, datang dan pergi silih berganti. Semoga badai besar ini segera berlalu. Yanto pilu hatinya, ternyata anak perempuannya masih memperhatikan nasibnya.
SEKILAS TAWA DIANTARA DUKA.
(Sumenep, 8 nov 2016)
Langganan:
Komentar (Atom)

